ANTIHISTAMIN


ANTIHISTAMIN (I)

"Turunan Kolamin dan Turunan Etilendiamin"

Histamin mempunyai peranan yang penting dalam patofisiologi penyakit alergi. Histamin adalah amina dasar yang dibangun dari histidin oleh histidine dekarboksilase. Histamin ditemui pada semua jaringan, namun mempunyai konsentrasi yang besar pada jaringan yang berkontak dengan dunia luar, seperti paru- paru, kulit, serta saluran pencernaan.

Antihistamin (antagonis histamin) ialah zat yang bisa mengurangi maupun menghalangi dampak histamin terhadap tubuh dengan jalan memblokir reseptor histamin. Histamin ialah derivat amin dengan berat molekul rendah yang dibuat dari L- histidine. Ada 4 tipe reseptor histamin, tetapi yang dikenal secara luas cuma reseptor histamin H1 serta H2.

Pada artikel ini saya akan memaparkan mengenai histamin H1 yaitu turunan kolamin dan etilendiamin, selamat membaca ^^

Antihistamin H1 diperkenalkan untuk penggunaan klinis di 1942, dan sejak saat itu sudah lebih dari 45 jenis antagonis H1 yang  tersedia di seluruh dunia dan merupakan kelas obat terbesar yang digunakan dalam pengobatan penyakit alergi.

Blokade yang dilakukan pada reseptor H1 oleh antihistamin/ antagonis H1 membatasi terikatnya histamin pada reseptor sehingga menghalangi dampak akibat histamin misalnya kontraksi otot polos, peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan vasodilatasi pembuluh darah. Reseptor H1 ditemui pada neuron, otot polos, epitel serta endotelium.

Antihistamin H1 juga digunakan sebagai antiemetik, antimabuk, anti parkinson, antibatuk, sedatif, antipsikotik, serta anestesi lokal. Antagonis H-1 kurang efektif untuk pengobatan asma bronchial dan syok anafilaksis.

Antagonis H1 ini memiliki struktur umum sebagai berikut:



Apabila pada bagian X merupakan gugus C kiral maka pengikatan reseptor akan terjadi secara selektif, perbedaan pada tiap substituennya akan memberikan potensi yang berbeda pula. Serta dengan adanya percabangan pada atompusatnya (CH2) akan menurunkan aktivitasnya kecuali pada prometazin.

Antagonis H1 secara fungsional dibagi jadi dua kelompok yaitu generasi pertama dan generasi kedua. Antagonis H1 Generasi pertama memiliki efek samping seperti mengantuk dan sedasi karena melewati sawar darah otak. Contoh antagonis H1 generasi pertama yaitu: Chlorpheniramine, Diphenydramine, Doxepin, dan hydroxyzine.

Kemudian pada tahun 1980 ditemukan antagonis H1 Generasi Kedua yang dikenal sebagai antagonis H1 non-obat penenang, karena melewati sawar darah otak jauh lebih kecil dari generasi pertama sehingga menurunkan efek kantuk dan sedasi. Antihistamin H1 generasi kedua juga lebih disenangi karena baik dari segi aktivitas antialergi, antiinflamasi, dan profil keamanannya lebih baik dan terbukti efektif dalam pengobatan alergi akut dan profilaksis jangka panjang. Antihistamin H1 generasi kedua juga dapat diberikan dalam situasi khusus seperti kehamilan dan menyusui seperti :Setirizin, loratadin, dan bilastin yang memiliki profil keamanan yang lebih tinggi daripada antihistamin generasi kedua lainnya. Contoh antagonis H1 generasi kedua lainnya yaitu: Levocetirizine, Desloratadine, dan Rupatadine.

·         Turunan eter aminoalkil/ Kolamin

Golongan ini mempunyai aktivitas antikolinergik nyata,yang mempertinggi aksi pengeblokan reseptor H1 pada sekresi eksokrin, dengan efek samping dapat menyebabkan kantuk. Hubungan struktur-Aktivitasnya yaitu :

1.       Difenhidramin HCl ; antihistamin kuat dengan efek sedatif dan antikolinerjik

2.       Dimenhidrinat; yaitu garam yang terbentuk dari difenhidramin dan 8-kloroteofilin

3.       Karbinoksamin maleat; mempunyai satu atom c asimetrik yang mengikat dua cincin aromatik

4.       Klemasetin fumarat; memiliki masa kerja yang panjang

5.       Pipirinhidrinat

Farmakodinamik 

            Ikatan obat Diphenhydramine dengan reseptor histamin H1 mengurangi dampak negatif yang disebabkan oleh ikatan histamin bebas dengan reseptor histamin H1 semacam respon inflamasi, vasodilatasi, bronkokonstriksi serta edema. Ikatan obat antihistamin H1 dengan reseptor histamin bisa kurangi aspek transkripsi respons imun NF-ĸß lewat fosfolipase C. Jalan sinyal fosfatidilinositol( PIP2) pula bisa kurangi presentasi antigen serta kurangi pengeluran sitokin pro inflamasi serta aspek kemotaksis. Antihistamin pula bisa merendahkan konsentrasi ion kalsium sehingga bisa memantapkan sel mast sehingga pengeluaran histamin menurun. Antihistamin generasi awal semacam Diphenhydramine bisa melewati sawar otak( blood brain barrier) serta bisa berikatan dengan reseptor histamin H1 di otak sehingga bisa menimbulkan dampak sedasi meski diberikan dalam dosis terapeutik. 

Farmakokinetik

  •      Absorbsi

    Obat diphenhydramine diabsorbsi dengan baik di saluran pencernaan. Waktu buat meraih konsentrasi plasma puncak kurang lebih 1- 4 jam.

  •     Distribusi

    Diphenhydramine didistribusikan secara luas ke segala bagian tubuh termasuk sistem saraf pusat. Obat ini bisa berikatan dengan protein plasma( plasma binding protein) 98- 99%.

  •     Metabolisme

    Diphenhydramine dimetabolisme paling utama di hati. Diphenhydramine bisa dimetabolisme di hati jadi N- Desmetildiphenhydramine serta dipfenhidramin N- glukoronida.

  •     Ekskresi

    Diphenhydramine diekskresi lewat kemih dalam wujud metabolit meski sebagian kecil dapat berupa obat utuh. Waktu paruh eliminasi dari badan: 2, 4- 9, 3 jam. 

·         Turunan etilendiamin

Golongan ini punya efektivitas yang tinggi, tetapi efek samping yang lumayan besar pada penekanan sistem syaraf dan iritasi lambung.

Hubungan struktur-aktivitasnya yaitu:

1.       Tripelnamain HCl; efek sama seperti dufenhidramin dan dengan efek samping lebih rendah.

2.       Antazolin HCl;punya efek samping paling rendah di golongan ini

3.       Mebhidrolin nafadisilat; punya rantai samng amiopropil


Terima Kasih, Semoga Bermanfaat ^^


DAFTAR PUSTAKA

Ricciardi, L., F. Furci dan I. Stefania. 2019. H1-Antihistamines for Allergic Diseases: Old Aged but Not Old-Fashioned Drugs.  International Journal of Allergy Medications. Vol 5(37): 1-3.

Sari, F dan S.W. Yenny. 2018. Antihistamin Terbaru di Bidang Dermatologi. Jurnal Kesehatan Andalas. Vol 7 (4) : 61-65.

Siswandono. 2016. Kimia Medisinal 2 Edisi 2. Surabaya : Airlangga University.

 

PERTANYAAN

  1. Kenapa antagonis H-1 kurang efektif untuk pengobatan asma bronchial dan syok anafilaksis?
  2. Kenapa antihistamin H1- sediaan topikal hidung memiliki onset kerja yang lebih cepat daripada formulasi sediaan oral? Jelaskan!
  3. Manakah dari kedua golongan antagois H1 diatas yang paling populer dan banyak digunakan sampai saat ini? Jelaskan alasannya dengan rinci!

 

 

 

Komentar

  1. Bagi mahasiswa farmasi, ini tulisan bagus sekali untuk sebagai sumber referensi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih 🙏 nantikan artikel2 lainnya, semoga bermanfaat 🙏

      Hapus
  2. Materi sangat menarik dan mudah di mengerti

    BalasHapus
  3. Artikel ini sangat bermanfaat dan membantu

    BalasHapus
  4. Artikelnya keren dan sangat bermanfaat

    BalasHapus
  5. Sangat membantuuu terimakasih banyak

    BalasHapus
  6. Terima kasih nisa, artikelnya bagus dan sangat membantu sekali..
    Disini saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2, salah satu contoh untuk sediaan topikal mata yaitu emedastine yang merupakan salah satu jenis obat yang digunakan pada penyakit konjungtivitis alergi. Obat emedastine merupakan obat penghambat pada reseptor H1. Obat ini bekerja dengan memblokade histamin yang memicu gejala alergi seperti iritasi, mata merah, dan lain-lain yg di akibatkan oleh alergen dari luar. Obat ini merupakan topikal tetes yang dapat digunakan selama 6 minggu hingga gejala iritasi pada mata menghilang.

    Semoga jawaban saya ini dapat membantuuu ehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah terima kasih atas jawabannya nur aliza, sangat membantu sekali🙏

      Hapus
    2. Silahkan berkunjung di artikel lainnya^^

      Hapus
  7. Balasan
    1. Terima kasih raudhatul, nantikan artikel lainnya di blog ini🙏

      Hapus
    2. Silahkan berkunjung di artikel lainnya^^

      Hapus
  8. Terimakasih artikel nya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  9. Izin menjawab pertanyaan nomor 2🙏 contoh obatnya yaitu CENDO CORTIHIST EYE DROPS yang berfungsi Meredakan gejala-gejala alergi lokal termasuk gatal-gatal, rasa terbakar, perih, dan kemerahan. Bengkak akibat alergi, kemerahan, bersisik & penebalan kulit kelopak mata.Sekian dari saya semoga membantu,terima kasih😊

    BalasHapus
  10. Perkenalkan saya maya arsita (F1F118008).akan menjawab pertanyaan no.2
    Obat sakit mata dengan kandungan antihistamin digunakan untuk meredakan mata gatal dan berair akibat alergi. Antihistamin bekerja dengan cara menghambat produksi histamin, yakni zat alami yang memicu munculnya gejala alergi. Salah satu obat sakit mata jenis antihistamin adalah ketotifen dan chlorpheniramine maleat.
    Obat sakit mata yang mengandung antihistamin tidak disarankan untuk digunakan pada anak berusia kurang dari 3 tahun, penderita glaukoma, atau orang yang sedang menggunakan obat-obatan tertentu, seperti benzalkonium chloride.

    BalasHapus
  11. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANTIHISTAMIN (II)