Reumatoid Artritis

 

Reumatoid Artritis (RA) merupakan sesuatu penyakit inflamasi kronis yang menimbulkan degenerasi jaringan penyambung. Jaringan penyambung yang umumnya alami kerusakan pertama kali merupakan membran sinovial, yang menyelimuti sendi. Pada RA, inflamasi tidak menurun serta menyebar ke struktur sendi disekitarnya, termasuk kartilago artikular serta kapsul sendi fibrosa. Akhirnya, ligamen serta tendon alami Inflamasi ditandai oleh penumpukan sel darah putih, aktivasi komplemen, fagositosis ekstensif, serta pembuatan jaringan parut. Pada inflamasi kronis, membran sinovial alami hipertropi serta menebal sehingga menutup aliran darah serta lebih lanjut menstimulasi nekrosis sel serta reaksi inflamasi. Sinovium yang menebal jadi ditutup oleh jaringan granular inflamasi yang disebut panus. Panus bisa menyebar ke segala sendi sehingga menimbulkan inflamasi serta pembuatan jaringan parut lebih lanjut. Sehingga mengganggu tulang serta memunculkan nyeri hebat dan deformitas.

 

Klasifikasi reumatoid arthritis jadi 4 jenis:

1) Reumatoid Arthritis Klasik

Pada jenis ini wajib ada 7 kriteria ciri serta gejala sendi yang mesti berlangsung terus menerus, setidaknya dalam waktu 6 minggu.

2) Reumatoid Arthritis Defisit

Pada jenis ini wajib ada 5 kriteria ciri serta gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, setidaknya dalam waktu 6 minggu.

3) Probable Reumatoid Arthritis

Pada jenis ini wajib ada 3 kriteria ciri serta gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, setidaknya dalam waktu 6 minggu.

4) Possible Reumatoid arthritis

Pada jenis ini wajib ada 2 kriteria ciri serta gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, setidaknya dalam waktu 3 bulan.

 

Penyebab yang bisa menyebabkan seorang mengidap rheumatoid arthritis ialah:

a. Aspek genetik

Sebagian riset yang sudah dicoba melaporkan terbentuknya rheumatoid arthritis sangat terikat dengan aspek genetik. 8 orang kulit putih yang mengidap rheumatoid arthritis mengekspresikan HLA- DR1 ataupun HLA- DR4 pada MHC yang ada di permukaan sel T. Penderita yang mengekspresikan antigen HLA- DR4 3, 5 kali lebih rentan terhadap rheumatoid arthritis.

b. Mekanisme IMUN( Antigen- Antibody) semacam interaksi antara IGC serta aspek Reumatoid

c. Umur serta tipe kelamin

Insidensi rheumatoid arthritis lebih banyak dirasakan oleh perempuan daripada pria dengan rasio 2: 1 sampai 3: 1. Perbandingan ini diasumsikan sebab pengaruh dari hormon. Perempuan mempunyai hormon estrogen sehingga bisa merangsang sistem imun. Onset rheumatoid arthritis terjalin pada umur dekat 50 tahun.

d. Infeksi

Peradangan bisa merangsang rheumatoid arthritis pada host yang gampang terinfeksi secara genetik. Virus ialah agen yang potensial merangsang rheumatoid arthritis semacam parvovirus, rubella, EBV, borellia burgdorferi.

Aspek lain: nutrisi serta aspek lingkungan( pekerjaan serta psikososial), mekanisme imunitas( antigen- antibodi), aspek metabolik

 

Penatalaksanaan dari artritis reumatoid ialah sebagai berikut:

1. Obat-obatan

a. Non- steroid anti- inflammatoy drugs

( NSAID) Kelompok obat ini kurangi peradangan dengan membatasi proses penciptaan mediator peradangan. Tepatnya, obat ini membatasi sintetase prostaglandin ataupun siklooksigenase. Enzim- enzim ini mengganti asamlemak sistemik andogen, ialah asam arakidonat jadi prostaglandin, prostasiklin, tromboksan serta radikal- radikal oksigen. Obat standar yang sudah dipakai semenjak lama dalam kelompok ini merupakan aspirin. Tidak hanya aspirin, NSAID yang lain pula bisa mengobati artritisreumatoid. Penciptaan dari prostaglandin, prostasiklin, serta tromboksan ini memberikan dampak analgesik, anti- inflamasi, serta anti- piretik. Contoh obat tipe ini merupakan meloxicam, diclofenac, ibuprofen, serta etodolac.

b. Disease- modifying antirheumatic drugs

( DMARD) Kelompok obat- obatan ini termasuk metotrexat, senyawa emas, D- penicilamine, antimalaria, serta sulfasalazine. Meski tidak memiliki kesamaan kimia serta farmakologis, pada prakteknya, obat- obat ini memberikan sebagian karakteristik. Pemberian obat ini baru jadi indikasi apabila NSAID tidak dapat mengendalikan artritis reumatoid. Sebagian obat- obatan yang telah disebutkan tadinya tidak disetujui oleh U. Sfood and Drugs Administration buat dipakai selaku obat artritis reumatoid. Tujuan penyembuhan dengan obat- obat kerja lambat ini merupakan buat mengatur manifestasi klinis serta menghentikan ataupun memperlambat kemajuan penyakit.

2. Terapi glukokortikoid

Terapi glukokortikoid sistemik bisa memberikan dampak buat terapi simptomatik pada pengidap artritis reumatoid. Prednison dosis rendah( 7, 5mg/ hari) sudah jadi pengobatan suportif yang bermanfaat buat mengendalikan indikasi. Meski demikian, bukti- bukti terkini berkata kalau terapi glukokortikoid dosis rendah bisa memperlambat progresifitas erosi tulang.

3. Operasi

Pembedahan mempunyai peranan berarti dalam penindakan pengidap artritisreumatoid dengan kehancuran sendi yang parah. Walaupun artroplasti serta penggantian total sendi bisa dicoba pada sebagian sendi, prosedur yang sangat sukses merupakan pembedahan pada pinggul, lutut, serta bahu. Tujuan realistik dari prosedur ini merupakan kurangi nyeri serta mengurangi disabilitas.

 

Non- steroid anti- inflammatoy drugs( NSAID)



Farmakodinamik

Diklofenak, ataupun diclofenac, merupakan obat antiinflamasi nonsteroid, dengan aktifitas antiinflamasi, analgesik, antipiretik, yang biasanya digunakan buat menanggulangi indikasi osteoarthritis, rheumatoid arthritis, serta ankylosing spondylitis. Diklofenak pula bisa digunakan selaku analgesik buat dismenorrhea ataupun nyeri sehabis pembedahan.

Natrium diklofenak mengikatkan diri serta berkelat pada kedua isoform dari enzim siklooksigenase 1( COX- 1) serta 2( COX- 2). Hal ini bakal membatasi konversi asam arakidonat jadi prostaglandin. Inhibisi natrium diklofenak terhadap COX- 2 bakal meredakan rasa nyeri serta inflamasi, serta inhibisi obat terhadap COX- 1, bisa memunculkan dampak kurang baik terhadap gastrointestinal. Natrium diklofenak bisa lebih aktif terhadap COX- 2, daripada sebagian obat lain kalangan antiinflamasi nonsteroid yang memiliki asam karboksilat.

Farmakokinetik

Farmakokinetik obat natrium diklofenak diabsorpsi baik sehabis konsumsi per oral. Obat berikutnya akan mengikuti siklus enterohepatik, berakhir di urine serta feses.

·         Absorpsi

Penyerapan natrium diklofenak ialah 100% sesudah konsumsi per oral, serta konsentrasi puncak obat tercapai dalam waktu 2 jam. Makanan tidak mempengaruhi proses absorpsi obat. Walaupun demikian, makanan bisa memperlambat absorpsi obat, yakni kurang lebih 1‒4, 5 jam, serta juga berlangsung penyusutan kadar puncak obat dalam plasma darah, yakni kurang lebih 30%. Obat sediaan lepas lambat serta salut selaput membutuhkan waktu kurang lebih 2‒5 jam buat menggapai konsentrasi puncak.

·         Distribusi

Sekitar lebih dari 99% obat natrium diklofenak ini terikat pada protein serum, paling utama albumin. Volume distribusi obat ialah 1, 4 L/ kilogram. Distribusi obat yang masuk ke dalam cairan sinovial merupakan dengan cara berdifusi, serta bisa dideteksi 2 jam sehabis obat masuk ke dalam tubuh. Tetapi, konsentrasi obat tersebut lebih rendah daripada konsentrasinya dalam plasma darah.

·         Metabolisme

Natrium diklofenak dimetabolisme di hepar jadi sebagian metabolit, dengan metabolit utamanya merupakan 4- hydroxydiclofenac. Obat serta metabolitnya akan menempuh proses glukuronidasi serta sulfasi, setelah itu disalurkan ke cairan empedu.

·         Eliminasi

Waktu paruh terminal obat dalam wujud tidak berubah yakni kurang lebih 2 jam. Kurang lebih 65% dari dosis obat yang masuk ke dalam badan diekskresikan ke urine serta kurang lebih 35% ke feses lewat sistem bilier.

 

Disease-modifying antirheumatic drugs (DMARD)



Methotrexate ataupun metotreksat ialah obat golongan antineoplastik dan imunosupresan, dengan mekanisme bagaikan agen antimetabolit serta antifolat. Obat ini digunakan buat chemotherapy sebagian tipe kanker, semacam kanker payudara, kepala serta leher, paru- paru, darah, tulang, kelenjar getah bening, serta rahim. Tidak hanya itu juga digunakan buat menyembuhkan rheumatoid arthritis parah, serta menanggulangi indikasi psoriasis berat pada orang dewasa

Farmakodinamik

Methotrexate pula mempunyai aktivitas imunosupresan yang kuat walaupun mekanisme kerjanya tidak jelas. Diprediksi obat ini bisa pengaruhi fungsi imunitas tubuh. Bersumber pada hasil riset, respon invitro methotrexate menimbulkan pengambilan prekursor DNA terhambat sebab distimulasi oleh sel mononuklear. Tidak hanya itu ditemui pula cerminan sel yang alami koreksi parsial poliartritis dari hiporesponsivitas sel limpa serta penekanan penciptaan interleukin II. Sebab dampak imunosupresan ini, methotrexate bisa digunakan buat menyembuhkan indikasi berat rheumatoid arthritis.

Farmakokinetik

Methotrexate diabsorpsi bergantung pada dosis yang diberikan, secara universal diserap baik di saluran pencernaan dengan bioavailabilitas rata- rata sekitar 60%. Methotrexate dimetabolisme sebagian besar di hepar serta intraseluler, serta diekskresikan lewat ginjal.

·         Absorpsi

Pada orang dewasa, penyerapan methotrexate secara oral bergantung pada dosis. Tingkat serum puncak dicapai dalam waktu 1- 2 jam. Pemberian dosis 30 miligram/ m2 ataupun kurang, metotreksat secara universal diserap baik dengan bioavailabilitas rata- rata dekat 60%. Penyerapan lebih sedikit secara signifikan pada pemberian dosis

80miligram/ m2, hal ini bisa jadi sebab efek saturasi.

·         Distribusi

Methotrexate sehabis pemberian intravena, volume dini yang didistribusikan sekitar 0, 18 L/ kilogram( 18% dari berat tubuh). Setelah itu, volume tetap distribusi methotrexate yakni kurang lebih 0, 4 sampai 0, 8 L/ kilogram( 40- 80% dari berat tubuh). Pada konsentrasi serum yang lebih besar dari 100 mikromolar, difusi pasif jadi jalan utama buat menggapai konsentrasi intraseluler yang efisien. Methotrexate dalam serum terikat pada protein kurang lebih 50%, serta bisa digeser oleh bermacam senyawa lain termasuk sulfonamida, salisilat, tetrasiklin, kloramfenikol, serta fenitoin. Metotreksat tidak menembus sawar darah serebrospinal dalam jumlah terapeutik kala diberikan secara oral ataupun parenteral. Konsentrasi obat CSF yang besar bisa dicapai oleh pemberian secara intratekal.

·         Metabolisme

Metabolisme methotrexate terjalin di hepar serta intraseluler, ditukar menjadi bentuk poliglutamat yang bisa dikonversi kembali jadi metotreksat oleh enzim hidrolase. Methotrexate poliglutamat dalam jumlah kecil bakal menetap di dalam jaringan pada waktu lama, serta berbeda di masing- masing jaringan. Hal Itu menimbulkan drug of action serta retensi obat bermacam- macam pada masing- masing sel, jaringan, serta tipe tumor. Metotreksat per oral sebagian dimetabolisme oleh flora usus.

Waktu paruh methotrexate merupakan 3- 10 jam pada penyembuhan psoriasis, rheumatoid arthritis, ataupun antineoplastik dosis rendah30 miligram/ m2. Sebaliknya pada pemberian metotreksat dosis besar, waktu paruh bisa mencapai 8- 15 jam.

·         Ekskresi

Ekskresi methotrexate paling utama lewat ginjal. Pada pemberian intravena, 80- 90% dari dosis obat tanpa metabolisme bakal diekskresikan dalam waktu 24 jam. Sebaliknya ekskresi lewat empedu Cuma kurang lebih 10% dari dosis.

 

Glukokortikoid



Farmakodinamik

Prednisone kurangi inflamasi dengan cara menginhibisi migrasi sel polimorfonuklear( PMN) serta kurangi kenaikan permeabilitas kapiler. Prednisone mensupresi sistem imun dengan cara kurangi aktivitas serta volume sistem limfe.

Prednisone di dalam darah bakal berganti jadi wujud aktif, serta di dalam inti sel bakal mengikatkan diri serta mengaktivasi reseptor- reseptor sitoplasmik nuklear khusus dengan afinitas yang besar, sehingga menyebabkan ekspresi genetik yang berganti serta menginhibisi penciptaan sitokin pro- inflamatori.

Wujud aktif tersebut menciptakan inhibisi infiltrasi leukosit, mengintervensi guna mediator- mediator terhadap reaksi inflamatori, mensupresi reaksi imun humoral, dan kurangi edema serta jaringan parut

Farmakokinetik

Farmakokinetik prednison kebanyakan didistribusikan berikatan dengan protein.

·         Absorpsi

Absorpsi prednison sangat baik sesudah konsumsi per oral. Konsentrasi puncak dalam plasma darah tercapai kurang lebih 1─3 jam pada sediaan immediate release, serta kurang lebih 6 jam pada sediaan delayed release. Bioavailabilitas obat per oral ialah 92%.

·         Distribusi

Distribusi prednison dalam ikatan dengan protein sebesar 65%─91%.

·         Metabolisme

Metabolisme berlangsung di hati dengan metode hidroksilasi menjadi metabolit aktif, prednisolon.

·         Eliminasi

Prednison diekskresikan ke dalam kemih. Waktu paruh biologis sehabis konsumsi per oral yakni kurang lebih 3- 4 jam. Pada kanak- kanak waktu tersebut lebih pendek, yakni kurang lebih 1- 2 jam.


REFERENSI

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi Revisi 3. Jakarta: EGC.

PERTANYAAN

1.    Apakah yang menyebabkan diclofenak dan prednison memiliki bioavailabilitas obat yang baik melalui per oral yaitu berturut-turur 100% dan 92%? Dan bila dibandingkan dengan pemberian intravena, mana yang memberikan absorpsi obat paling baik?

2.    Pada ekresi obat methotrexat pada pemberian intravena, 80- 90% dari dosis obat tanpa metabolisme bakal diekskresikan dalam waktu 24 jam. Sebaliknya ekskresi lewat empedu Cuma kurang lebih 10% dari dosis. Apakah yang menyebabkan rendahnya ekresi obat pada empedu?

Komentar

  1. Haiii, artikelnya sangat menarik!! Aku bantu jawab pertanyaan nomor 2 yaa. Jadi, obat metotreksat (MTX) ini mengalami first pass metabolism di hati atau herpar sehingga diekskresikan <30% melalui empedu. Sebelum obat disebar keseluruh tubuh, obat dimetabolisme di hati dimana metabolisme oleh hati (herpar) ini menyebabkan obat menjadi inaktif sehingga menurunkan jumlah obat yang sampai ke sirkulasi sistemik. Kondisi ini dapat terjadi ketika obat dikonsumsi secara oral, apabila diberikan secara IV menyebabkan obat tersebut langsung masuk ke sistem sirkulasi sehingga absorpsi obat metotraksat lebih besar.

    Semoga jawaban ini membantu!! Semangat menyebarkan ilmu pengetahuan ke semua orang!!

    BalasHapus
  2. Artikel ini sangat bermanfaat, terima kasih ilmu nya

    BalasHapus
  3. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANTIHISTAMIN (II)